Sembuh Walau Tidak Kembali Utuh
Malam ini aku memberanikan diri untuk mendatangi tempat yang sempat tidak lagi kujadikan tujuan wisata dengan rasa yang sama seperti dulu, cinta berlebihan. Dua paperbag di kursi samping tetap rapi, seolah mengerti bahwa perannya hanya sampai di sini—tidak lebih, tidak kurang.
Jalanan yang kulewati masih sama, tetapi rasanya tidak lagi menyeretku ke belakang. Kota itu menyambutku, seluruh ornament ukiran dan jalanannya masih sama, sangat rapi dan apik. Aku sampai, dan memandangi alun-alun dengan saksama. Aku berdiri sejenak, memandangi sudut-sudut yang dulu terasa akrab.
Malam itu aku duduk di dalam mobil, dari kejauhan. Mengamati mereka dengan saksama dan tersenyum kecil. Turut berbahagia atas tawa yang dapat kulihat jelas dengan mata kepalaku sendiri. Aku menghela napas panjang dan ikut tersenyum. Mengingat bagaimana dulu aku merasakan posisi itu, dan kini aku sudah di sini.
Terima kasih untuk semua yang pernah ada, untuk tawa yang dulu terasa utuh, untuk luka yang mengajarkan banyak hal yang tidak pernah kupelajari sebelumnya.
Terima kasih sudah menjadi rumah di masa lalu, dan kini aku tidak lagi tinggal di dalamnya. Tidak semua yang pernah kita tempati harus selalu kita bawa, dan aku akhirnya mengerti itu.
Melepaskan bukan berarti menghapus, tapi memberi ruang agar sesuatu tetap ada tanpa harus mengikat.
KETERANGAN BUKU:
Judul: Sembuh Walau Tidak Kembali Utuh
Penulis: na
Jumlah Halaman: 193 halaman
Ukuran: 14x20 cm
