Ketika Debu Belajar Menggugat
Malam di Desa Bajingur selalu terasa berbeda. Langitnya gelap, tetapi bintang-bintang bersinar cukup terang untuk menemani siapa saja yang masih terjaga. Desa ini kecil, tidak terlalu jauh dari hiruk-pikuk ibukota. Orang-orang di luar sering menyebutnya "Gudang sampah negara". Julukan yang terdengar kejam,
tapi sulit dibantah.
Namaku Adi. Aku berumur 14 tahun dan merupakan anak tunggal. Sejak kecil, aku tinggal di tepian sungai Rotok, sungai paling tercemar di Pulau Waja. Airnya keruh dan berbau, tapi bagi kami, sungai itu sudah seperti bagian dari kehidupan.
Aku sering berfikir, suatu hari aku ingin mengubah semua ini. Mengubah nasib desaku,ibuku, dan negaraku. Ini tentang perjuangan, pengorbanan, demokrasi dan keadilan...
Dan mungkin ini yang akan terjadi,
jika debu belajar menggugat...
KETERANGAN BUKU:
Judul: Ketika Debu Belajar Menggugat
Penulis: Emir Zain
Jumlah Halaman: 246 halaman
Ukuran: 14x20 cm
